Tingkat Kelangsungan Hidup Penderita Diabetes Mellitus di Indonesia antara Tahun 2019 dan 2022
Diabetes Mellitus merupakan masalah kesehatan yang berkembang pesat hampir setiap negara
di dunia. Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia Tenggara yang masuk
dalam 10 negara teratas secara global dengan jumlah penderita Diabetes Mellitus
tertinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat
kelangsungan hidup pasien dengan memanfaatkan data dari BPJS yang berkaitan
dengan sampel pasien tersebut. Saat ini terdapat 537 juta kasus diabetes di
seluruh dunia. Dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 643 juta pada
tahun 2030.
Diabetes
Mellitus (DM) diakui di seluruh dunia sebagai epidemi yang sedang berkembang.
Diabetes Mellitus adalah kelainan metabolisme kronis yang ditandai dengan kadar
gula yang melebihi batas normal akibat penurunan kerja insulin. Studi terhadap
wanita hamil dengan diabetes menemukan angka kematian yang jauh lebih tinggi. Penderita
diabetes yang juga mengidap kanker kemungkinan presentase kematian 30% lebih
besar daripada pengidap diabetes namun tidak memiliki kanker. Di Indonesia,
beberapa penelitian mengenai Diabetes Mellitus telah dilakukan. Nmaun,
penelitian-penelitian ini terutama berfokus pada faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap penyakit dan komplikasinya, dan tidak ada data statistic
yang ditemukan mengenai tingkat kelangsungan hidup atau kematian. Penelitian
didasarkan pada data sampel konstektual DM yang diperoleh dari BPJS yang
mencakup seluruh peserta yang dijadikan sampel. Penelitian ini menganalisis data
usia peserta, jenis kelamin, kelas pengobatan, dan segmentasi yang memberikan
wawasan tentang status sosial-ekonomi mereka dan jenis fasilitas kesehatan
tempat mereka menerima pengobatan. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari
100 pasien diabetes, sekitar 80 pasien mempunyai kemungkinan bertahan hidup
hingga akhir penlitian. Jika dianalisis berdasarkan provinsi, tingkat
kelangsungan hidup tertinggi yaitu di Nusa Tenggara Barat sebesar 0,8565 yang
berarti 86 orang dari 100 pasien yang bertahan hidup selama periode pengamatan.
Sebaliknya, angka kelangsungan hidup yang terendah terdapat di Sulawesi Utara
sebesar 0,7496 yang berarti 25% pasien diabetes di Sulawesi Utara meninggal
selama periode pengamatan 4 tahun. Angka kelangsungan hidup tertinggi pada
kelompok umur 18-40 tahun, sedangkan angka kelangsungan hidup terendah terdapat
pada anak balita. Angka kelangsungan hidup pasien DM perempuan lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Pasien dengan kelas pengobatan II memiliki risiko
kematian 11 kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelas pengobatan I.
Dapat disimpulkan bahwa di Indonesia, tingkat kelangsungan hidup pasien DM mengalami penurunan secara progresif dari tahun 2019 hingga 2022, yang menunjukkan peningkatan angka kematian setiap tahunnya. Analisis lebih lanjut terhadap data sampel menunjukkan bahwa risiko kematian lebih tinggi pada pasien anak-anak daripada orang dewasa. Apalagi laki-laki yang pasalnya lebih rentan terhadap penyakit ini daripada perempuan. Faktor sosial, ekonomi, kelas pengobatan, dan pemilihan fasilitas kesehatan yang bervariasi juga mempengaruhi kelangsungan hidup pasien DM. Penelitian ini menekankan pentingnya mengurangi faktor risiko lain yang berkontribusi terhadap kematian dini pada pasien DM.

Komentar
Posting Komentar